8.08.2009

Gorontalo (Data)


Gorontalo adalah provinsi yang ke-32 di Indonesia. Sebelumnya, Gorontalo merupakan wilayah kabupaten di Sulawesi Utara. Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah berkenaan dengan otonomi daerah, provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000 tertanggal 22 Desember 2000.
Provinsi Gorontalo terletak di pulau Sulawesi bagian utara atau di bagian barat Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini 12.215 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 887.000 jiwa (2004).

Kabupaten dan Kota

No.
Kabupaten/Kota
Ibu kota
1
Kabupaten Boalemo
Marisa/Tilamuta
2
Kabupaten Bone Bolango
Suwawa
3
Kabupaten Gorontalo
Limboto
4
Kabupaten Gorontalo Utara
Kwandang
5
Kabupaten Pohuwato
Marisa
6
Kota Gorontalo
Gorontalo


Daftar Gubernur


Nama
Dari
Sampai
Keterangan
Tursandi Alwi (Pejabat Gubernur)
16 Februari 2001
12 September 2001
Dilantik oleh Mendagri dan Otonomi Daerah Surjadi Soedirdja
Fadel Muhammad
12 September 2001
17 Januari 2007
Pasangan Ir. Fadel Muhammad dan Ir. Gusnar Ismail MM
adalah pasangan Gubernur-Wakil Gubernur periode 2001-2006
Fadel Muhammad
17 Januari 2007
Sekarang
Pasangan Ir. Fadel Muhammad dan Ir. Gusnar Ismail MM
adalah pasangan Gubernur-Wakil Gubernur periode 2007-2012. Ini merupakan periode ke-2 pasangan ini.

Bahasa daerah

Sebenarnya ada banyak bahasa daerah di Gorontalo. Namun hanya tiga bahasa yang masih bisa dengan mudah ditemukan, yaitu: bahasa Gorontalo, bahasa Suwawa dan bahasa Atinggola. Dalam proses lahirnya bahasa yang ada khusus untuk bahasa daerah adalah bahasa Gorontalo. Saat ini bahasa Gorontalo telah dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, sehingga kemurnian bahasa agak sulit diperoleh di Gorontalo.

Media cetak

Hingga saat ini ada 2 buah surat kabar harian yang terbit di Gorontalo, yaitu: Gorontalo Post dan Tribun Gorontalo. Beberapa waktu lalu sempat juga terbit Limboto Express, media milik Pemerintah Kabupaten Gorontalo yang kemudian sudah tidak terbit lagi. Selain itu juga pernah terbit Koran Gorontalo yang juga tidak berumur panjang.

Rumah adat


  • Bandayo Po Boibe
  • Bele li Mbui
  • Dulohupa

Senjata tradisional

  • Sabele/Parang

Sejarah

Gorontalo seperti daerah lainnya di Indonesia pernah lama dijajah oleh Belanda akan tetapi lebih dahulu merdeka ketimbang Indonesia. Gorontalo merdeka pada tahun 1942 ketika penjajah Belanda digantikan oleh Jepang. Pada tanggal 23 Januari 1942 itulah Gorontalo merdeka dengan perjuangan rakyat bersama tokoh pejuang heroiknya yaitu Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo

Gorontalo merdeka tanggal 23 Januari 1942

A. Selayang Pandang
Pernah mendengar Proklamasi Kemerdekaan tanggal 23 Januari 1942? Mungkin tidak, sebab Proklamasi Kemerdekaan Indonesia baru dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Siapa sangka, tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu, ribuan kilo jauhnya dari Jakarta, di Kota Gorontalo telah diproklamirkan kemerdekaan lepas dari belenggu penjajahan Belanda. Tentu bukan oleh Soekarno dan Hatta, melainkan oleh Nani Wartabone, seorang patriot pejuang kelahiran Kampung Suwawa, Gorontalo.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan Nani Wartabone itulah, pada tahun 1987 Drs. A. Nadjamudin, Walikota Gorontalo ketika itu, membangun Monumen Nani Wartabone yang terletak di tengah Alun-alun Gorontalo, tepat di depan rumah Dinas Gubernur Provinsi Gorontalo saat ini. Kisah perjuangan Nani Wartabone memang cukup panjang, membentang dari jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, hingga penumpasan berbagai pemberontakan di daerah Gorontalo, seperti pemberontakan PRRI/Permesta dan G 30 S/PKI.
Menurut Taufik Polapa (dalam www.gorontalomaju2020.blogspot.com), perjuangan Nani Wartabone dimulai sejak usia 16 tahun, ketika ia menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Kota Surabaya pada tahun 1923. Lima tahun kemudian, Nani Wartabone dipercaya menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI). Sebagai aktivis, Nani Wartabone dikenal sebagai pejuang anti-penjajah. Oleh sebab itu, setelah mengetahui rencana Belanda yang akan membumihanguskan Gorontalo pada 28 Desember 1941 (karena Belanda mengetahui kekalahan pihak Sekutu dari Jepang pada perang Asia-Pasifik), bersama warga Gorontalo Nani Wartabone kemudian melakukan perlawanan rakyat.
Setelah hampir satu bulan melakukan perlawanan di pinggiran kota, akhirnya pada 23 Januari 1942 Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo bergerak mengepung kota. Pukul lima subuh, Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah. Setelah para petinggi Belanda tersebut ditangkap, pukul 10 pagi tanggal 23 Januari 1942, Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera merah putih yang diiringi dengan lagu Indonesia Raya di halaman Kantor Pos Gorontalo. Usai proklamasi tersebut, Nani Wartabone kemudian memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG), dan ia terpilih sebagai ketuanya.
Sekitar satu bulan setelah proklamasi tersebut, pada tanggal 26 Februari 1942, Jepang mulai mendarat di Pelabuhan Gorontalo. Sebagai Ketua PPPG, Nani Wartabone menyambut baik kedatangan Jepang dengan harapan mereka akan membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan Gorontalo. Namun, pada kenyataannya Jepang tidak lebih baik dari Belanda, sehingga Nani Wartabone harus menyingkir ke kampung halamannya di daerah Suwawa. Nani Wartabone lalu difitnah, bahwa ia sedang melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Akibatnya, pada tanggal 30 Desember 1943 ia ditangkap dan dibawa ke Manado. Nani Wartabone baru dilepaskan pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.
Dua bulan kemudian, saat Jepang benar-benar kalah dari Sekutu, pada tanggal 16 Agustus 1945 (sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta), kekuasaan Jepang di Gorontalo diserahkan kepada Nani Wartabone. Sejak saat itulah bendera Merah Putih kembali berkibar di tanah Gorontalo. Karena minimnya peralatan telekomunikasi ketika itu, berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta baru sampai di Gorontalo pada 28 Agustus 1945.
Selain sebagai pejuang kemerdekaan, Nani Wartabone juga dikenal sebagai pemimpin daerah, antara lain pada tahun 1950-an ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Pemerintahan di Gorontalo, menjabat sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan pernah pula menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas memangku berbagai jabatan penting itu, Nani Wartabone memilih tinggal di kampungnya, di Desa Suwawa sebagai petani. Nani Wartabone meninggal pada tanggal 3 Januari 1986, dan dikebumikan di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa.
B. Keistimewaan
Mengunjungi Monumen Nani Wartabone, Anda akan diajak untuk mengenang sosok pejuang kelahiran Gorontalo yang mampu melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Nani Wartabone memang pejuang sejati bagi rakyat Gorontalo. Meskipun namanya tidak setenar tokoh atau Pahlawan Nasional lainnya, namun melalui perjuangannya, kita tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah proklamasi kemerdekaan yang pertama. Dengan mengetahui sejarah perjuangan Nani Wartabone, pengunjung dapat membandingkannya dengan sejarah perjuangan Nasional Indonesia.
Karena jasa-jasanya, pahlawan dari Gorontalo ini tercatat memperoleh berbagai tanda jasa dan penghargaan dari pemerintah RI, mulai dari `Surat Penghargaan Membantu Gerakan Angkatan Perang RI`, `Perintis Kemerdekaan`, `Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia`, serta `Bintang Mahaputra Utama`. Pada tahun 2003, Nani Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003, tertanggal 6 November 2003. Penghargaan ini diserahkan oleh Presiden Megawati kepada salah seorang anak Nani Wartabone, yaitu Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara pada tanggal 7 November 2003.
Selain menyimak perjalanan sejarah Nani Wartabone, wisatawan juga dapat menikmati suasana di kawasan Monumen Nani Wartabone ini. Monumen Nani Wartabone terletak di tengah Alun-alun Kota Gorontalo, sehingga menjadi salah satu pusat keramaian dan ruang publik di Kota Gorontalo. Masyarakat Gorontalo biasanya menggunakan tempat ini untuk berkumpul bersama keluarga atau teman terutama pada hari-hari libur.
C. Lokasi
Monumen Pahlawan Nani Wartabone terletak di Alun-alun Gorontalo, atau yang lebih dikenal dengan Lapangan Teruna Remaja, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia.
D. Akses
Monumen Nani Wartabone terletak di pusat kota Gorontalo. Untuk menuju Kota Gorontalo, wisatawan dari luar Gorontalo dapat menempuh berbagai moda transportasi, baik transportasi udara (pesawat terbang), transportasi laut (kapal Pelni), atau transportasi darat (bus antar-kota). Untuk transportasi udara, saat ini Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo telah melayani penerbangan dari dan ke berbagai kota di Indonesia, seperti penerbangan Jakarta-Palu-Gorontalo, Manado-Gorontalo, maupun Makassar-Gorontalo.
Apabila memilih memanfaatkan jasa kapal laut, wisatawan dapat mendarat di Pelabuhan Gorontalo atau di Pelabuhan Anggrek Kwandang, di Kabupaten Gorontalo. Secara reguler, kapal penumpang seperti KM Umsini, KM Kambuna, KM Tilongkabil, serta KM Awu menyinggahi kedua pelabuhan laut tersebut. Sementara jika ingin menggunakan jasa transportasi darat, wisatawan dapat menempuh perjalanan dari kota-kota utama di Pulau Sulawesi, seperti Manado, Bitung, Kotamobagu, Palu, Poso, Parepare, atau Makassar dengan menggunakan bus besar atau bus DAMRI. Di Gorontalo terdapat dua terminal, yaitu Terminal 1942 di Kota Gorontalo, dan Terminal Isimu di Kabupaten Gorontalo. Dari dua terminal ini, wisatawan dapat menggunakan jasa mikrolet, bendi, bentor (bendi motor), maupun ojek untuk menuju pusat kota Gorontalo.
E. Harga Tiket
Mengunjungi Monumen Nani Wartabone tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Mengunjungi Kota Gorontalo,wisatawan tak perlu khawatir bila memerlukan penginapan. Di kota ini telah tersedia berbagai tipe penginapan, mulai dari hotel melati hingga hotel bintang tiga. Berbagai rumah makan, mulai dari restoran yang menyajikan masakan khas Gorontalo hingga masakan internasional, juga ada di kota ini.

Sejarah Gorontalo

petagtloMenurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.

Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.

Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :

Pohala'a Gorontalo
Pohala'a Limboto
Pohala'a Suwawa
Pohala'a Boalemo
Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :

• Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
• Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
• Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
• Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
• Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
• Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
• Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air

Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.

Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu

• Onder Afdeling Kwandang
• Onder Afdeling Boalemo
• Onder Afdeling Gorontalo

Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
• Distrik Kwandang
• Distrik Limboto
• Distrik Bone
• Distrik Gorontalo
• Distrik Boalemo

Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
Afdeling Gorontalo
Afdeling Boalemo
Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat "Hari Kemerdekaan Gorontalo" yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.

Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Geografis

Berdasarkan UU No. 38 tahun 2001, wilayah Gorontalo ditetapkan sebagai Provinsi, lepas dari Provinsi Sulawesi Utara. Gorontalo sebagai provinsi yang ke 32 secara geografis terletak diantara 0º, 30' - 1º,0' lintang utara dan 121º,0' - 123º,30' Bujur Timur, yang diapit oleh Laut Sulawesi di sebelah Utara, Provinsi Sulut di sebelah Timur, Teluk Tomini di sebelah Selatan, dan Provinsi Sulteng di sebelah Barat.

Provinsi Gorontalo memiliki luas wilayah sebesar 12.215,45 km2

Iklim

• Musim kemarau : Juli - September
Musim penghujan : September - Pebruari
Suhu udara siang hari : 30,9ºC – 34,0ºC
Suhu udara malam hari : 20,8ºC – 24,4ºC
Suhu minimum-maksimum : 23,0ºC - 31,8ºC
Kelembaban udara rata-rata : 83%